Pada suatu malam pukul 11 di ruang dosen, saya masih bergulat dengan tumpukan lembar ujian—sekitar 100 halaman menanti untuk dinilai dalam waktu yang terbatas. Tulisan tangan yang sulit dibaca membuat pekerjaan semakin menantang. "Masih banyak, ya?" tanya Ali Ridho, rekan dosen saya. "Ini baru sepertiga dari tugas semester ini," jawab saya. Situasi seperti ini biasa dialami oleh para pendidik di Indonesia, di mana jumlah mahasiswa yang banyak dan waktu yang singkat menjadi tantangan sehari-hari.
Saya telah mencoba berbagai pendekatan konvensional—rubrik penilaian terperinci, bantuan asisten, dan format yang disederhanakan. Meskipun ada sedikit kemajuan, masalah utama tetap ada: tulisan tangan yang sulit dibaca, jawaban panjang yang harus diperiksa satu per satu, dan konsistensi penilaian yang sulit dijaga. Upaya itu terasa seperti berjalan di tempat.
"Mengapa penilaian harus dilakukan secara manual?"
Pertanyaan sederhana dari Ali Ridho membuat saya berpikir ulang. Saat itu, saya teringat sebuah konsep yang pernah saya pelajari sebagai mahasiswa: first principles thinking. Ini adalah metode berpikir yang mengajak kita untuk melangkah mundur, melepaskan segala asumsi yang biasa diterima, dan memulai dari kebenaran dasar yang tidak dapat diganggu gugat. Para pemikir besar seperti Aristoteles menyebutnya sebagai fondasi pengetahuan, Descartes menggunakannya untuk membuktikan keberadaannya dengan "Saya berpikir, maka saya ada," dan Elon Musk memakainya untuk membangun roket dengan cara baru yang lebih hemat.
Apa Itu First Principles Thinking?
Mari kita pahami bersama. First principles thinking adalah cara untuk melihat masalah dengan mata segar. Biasanya, saya dan kamu cenderung menerima apa yang sudah ada—misalnya, "Begini memang caranya." Namun, pendekatan ini mengajak kita untuk bertanya, "Benarkah harus begitu?" Kita membongkar masalah hingga ke bagian paling dasar, mencari apa yang benar-benar penting, lalu membangun solusi dari nol. Ini bukan sekadar memperbaiki, tetapi menciptakan sesuatu yang baru dan lebih baik.
Misalnya, kalau kamu mau membuka warung makan, kebanyakan orang berpikir harus ada tempat duduk, koki, dan menu panjang. Tapi dengan first principles, kamu bertanya, "Apa yang sebenarnya dibutuhkan orang?" Jawabannya mungkin hanya makanan enak dan cepat—bisa jadi cukup lewat pesanan daring tanpa ruang makan besar. Cara ini membuka kemungkinan yang sebelumnya tidak terpikirkan, di bidang apa pun—pendidikan, bisnis, atau bahkan kehidupan sehari-hari.
Cara Berpikir First Principles
Perbedaan Utama
Berpikir Konvensional: Menerima cara yang sudah ada
First Principles: Mempertanyakan asumsi dan mencari yang mendasar
Hasil: Solusi inovatif tanpa dibatasi cara berpikir lama
"Jangan tanya mengapa begini caranya, tapi tanyakan apa yang sebenarnya kita butuhkan."
Langkah Nyata: Koreksinilai
Kembali ke cerita saya. Malam itu, setelah bicara dengan Ali Ridho, saya pulang dengan pikiran berputar. Di meja kecil kamar, di bawah lampu temaram, saya menuliskan ide untuk Koreksinilai. Saya tidak ingin sekadar mendigitalisasi penilaian—saya ingin membangunnya ulang dari dasar. Saya bertanya pada diri sendiri, "Apa yang benar-benar dibutuhkan dosen?" Jawabannya muncul: alat yang bisa membaca tulisan tangan, mengubahnya menjadi teks, dan menangkap inti jawaban siswa dengan cepat.
Fungsi Utama Koreksinilai
- Mengubah tulisan tangan menjadi teks digital.
- Mengenali ide utama jawaban dan membandingkannya dengan kunci jawaban.
- Memberikan nilai awal secara otomatis untuk bagian yang terstruktur.
- Menandai jawaban yang memerlukan tinjauan lebih lanjut oleh dosen.
Prosesnya tidak sederhana. Saya menghabiskan berbulan-bulan menyempurnakan sistem ini, mengintegrasikan teknologi OCR dari Amazon untuk akurasi. Awalnya, ada momen lucu—misalnya, "integral" terbaca sebagai "intergalaktik"—tapi akhirnya berhasil. Lima puluh lembar ujian yang biasanya memakan waktu lima jam bisa selesai dalam 15 menit. Rekan-rekan guru mulai tertarik, dan yang lebih penting, penilaian menjadi lebih konsisten dan adil bagi pelajar.
Melihat Lebih Luas
Tapi ini bukan cuma soal ujian. Cara berpikir ini bisa kamu gunakan di mana saja. Di Indonesia, misalnya, Ruangguru tidak sekadar memindahkan kelas ke daring. Mereka bertanya, "Apa esensi belajar?" dan membangun platform dari nol agar siswa benar-benar memahami, bukan hanya hadir. Gojek juga—mereka lihat orang butuh cepat dan praktis, lalu bikin ekosistem transportasi dan layanan dari dasar. Ini menunjukkan bahwa first principles bukan cuma untuk teknologi, tapi untuk semua hal yang kita hadapi setiap hari.
Saya pun melanjutkan perjalanan ini dengan Akadevisi. Saya bertanya, "Bagaimana teknologi membantu kita hidup lebih baik?" Untuk Akadevisi Learn, saya menyediakan pelatihan AI yang mudah dipahami dan dapat diakses oleh semua orang, mulai dari webinar gratis hingga workshop terbaru. Di Akadevisi Solution, saya cari tahu apa yang membuat organisasi berjalan lancar, dan ciptakan solusi berbasis AI yang sesuai untuk sekolah dan bisnis lokal. Pendekatan ini tetap hidup karena ia menyesuaikan diri dengan perkembangan teknologi terkini—selalu mulai dari nol, tapi dengan pendekatan yang inovatif.
PT Akadevisi Leading Digital Intelligence
Platform edukasi dan solusi AI berbasis pendekatan hyper-lokal di Indonesia. Kami percaya bahwa teknologi kecerdasan buatan dapat diimplementasikan secara efektif dan terjangkau bagi sekolah, UMKM, serta individu.
Akadevisi Learn
Program edukasi AI dari webinar interaktif hingga workshop terkini bersertifikat
Akadevisi Solutions
Solusi AI yang disesuaikan untuk sekolah dan bisnis lokal di Indonesia
Langkah Praktis untuk Kamu
Saya ingin kamu coba sendiri. Cara ini nggak susah, kok. Ini langkah-langkah praktis yang bisa kamu pakai, apa pun masalah yang kamu hadapi:
Tantang yang Biasa
Tulis apa yang kamu anggap "harus begitu," lalu tanya, "Mengapa? Benarkah harus seperti ini?" Ini bantu kamu lihat mana yang cuma kebiasaan.
Pecah Jadi Kecil
Bongkar masalahmu sampai ke bagian paling dasar—apa yang bikin susah?
Bikin dari Nol
Lupakan cara lama, bangun solusi baru dari apa yang kamu temukan tadi.
Coba Dulu
Uji kecil-kecilan, lihat apa yang jalan, apa yang perlu diperbaiki.
Sempurnakan
Dari ujian tadi, perbaiki, lalu ulangi sampai bener-bener jadi.
Langkah ini bisa kamu pakai untuk apa saja—bikin bisnis, selesain kerjaan kantor, atau bahkan atur jadwal harian. Yang penting, jangan takut buang apa yang udah biasa kamu pikir bener.
Tantangan yang Saya Hadapi
Tapi saya akui, nggak selalu gampang. Waktu bikin Koreksinilai, beberapa rekan khawatir teknologi akan gantikan peran manusia. Saya bilang, "Bukan gitu—ini cuma bantu kita fokus ke yang lebih penting." Prosesnya juga makan waktu—menyempurnakan OCR butuh berbulan-bulan sementara ujian numpuk. Saya mulai dari kecil, tes sama temen guru, dan fokus ke akurasi, bukan ribet sama detail kecil. Gabung sama cara cepet dari Lean, akhirnya semua jadi lebih lancar.
Jadi, tantangan itu wajar—orang takut berubah, waktu bisa jadi musuh. Tapi saya belajar, kalau kamu mulai kecil dan fokus ke intinya, semua jadi mungkin. Seperti filosofi Kaizen dari Jepang, perbaikan kecil yang konsisten akan menghasilkan perubahan besar seiring waktu.
Makna yang Lebih Besar
Saya duduk menulis ini di malam yang tenang, jauh berbeda dari malam penuh tumpukan ujian itu. Sekarang saya merasa puas bisa berbagi cerita ini sama kamu. Cara ini ubah saya—dari cuma mengeluh ke bikin solusi yang punya dampak. Saya harap kamu juga coba. Ambil satu masalah, tanya "Mengapa begini?" dan bikin dari nol. Mungkin langkah kecil itu ubah harimu, atau malah hidupmu. Di dunia yang penuh kerumitan, balik ke dasar bikin kita tenang dan kuat buat masa depan yang lebih baik.
Kembali ke dasar, pandang dengan mata baru, bangun dari nol.