Memahami, Memilih, dan Memperbaiki
Setiap tindakan berangkat dari suatu pemahaman tentang keadaan. Ada sesuatu yang dianggap sedang terjadi, sesuatu yang diperkirakan akan terjadi berikutnya, dan sesuatu yang dianggap penting untuk dipertahankan atau diubah.
Pemahaman tersebut dapat sangat baik. Namun ia tidak pernah menjadi hal yang sama dengan keadaan yang sedang dipahami.
Ketika tubuh seseorang terasa sakit, pengalaman itu nyata. Penyebabnya tidak hadir dengan kejelasan yang sama. Tubuh mungkin kelelahan, suatu bagian mungkin terluka, suatu penyakit mungkin sedang berkembang, kebiasaan tertentu mungkin memperburuknya, atau beberapa hal itu mungkin terjadi bersamaan. Letak dan kuatnya rasa sakit pun belum tentu menunjukkan penyebabnya dengan tepat.
Rasa sakit tidak memerlukan pendidikan tertentu untuk menjadi penting. Ia dapat hadir sebelum seseorang memiliki kata-kata untuk menjelaskannya. Namun pentingnya sebuah pengalaman tidak membuat penjelasan pertama tentang pengalaman itu pasti benar.
“Bagian tubuh ini terasa sakit sejak pagi” adalah pengalaman yang dapat dilaporkan. “Rasa sakit ini terjadi karena kurang tidur” adalah penjelasan. Penjelasan menghubungkan pengalaman dengan penyebab yang tidak diberikan langsung oleh pengalaman itu sendiri.
Dugaan diperlukan. Tanpanya, sulit memperkirakan apa yang akan terjadi atau menentukan tindakan. Masalah muncul ketika sesuatu yang disimpulkan tidak lagi dibedakan dari sesuatu yang benar-benar diketahui.
Sebuah penjelasan dapat terasa sangat masuk akal karena sesuai dengan pengalaman sebelumnya, didukung oleh beberapa hal yang terlihat, dan tersusun tanpa pertentangan. Namun penjelasan yang keliru juga dapat memiliki semua sifat tersebut.
Kesalahan tidak selalu terasa sebagai kesalahan. Fakta yang belum diketahui tidak hadir sebagai peringatan. Kemungkinan yang belum terpikirkan juga tidak terasa hilang. Dari dalam, keyakinan yang keliru dapat terasa sama meyakinkannya dengan keyakinan yang benar.
Rasa yakin karena itu tidak cukup untuk memeriksa kebenaran sebuah keyakinan. Memikirkannya lebih lama juga belum tentu membantu jika bahan yang digunakan tetap sama. Penalaran yang rapi dapat menghasilkan kesimpulan yang salah ketika berangkat dari informasi yang tidak lengkap atau keliru.
Pemeriksaan menjadi lebih berguna ketika sebuah penjelasan berhadapan dengan sesuatu yang tidak ditentukan oleh penjelasan itu sendiri. Jika kurang istirahat dianggap sebagai penyebab, perlu ditanyakan apa yang seharusnya berbeda bila penyebabnya adalah cedera atau proses lain di dalam tubuh. Kapan rasa sakit mulai, bagian mana yang terasa, apa yang berubah sebelumnya, bagaimana perkembangannya dari waktu ke waktu, tanda lain yang muncul, serta hasil pemeriksaan dapat membantu membedakan kemungkinan tersebut.
Tidak satu pun dari hal itu mustahil salah. Ingatan dapat tidak tepat. Rasa sakit dapat berubah sebelum diperiksa. Sebuah pengukuran hanya menangkap bagian tertentu dari keadaan tubuh. Orang yang memeriksa pun dapat keliru menafsirkan apa yang ditemukan. Nilai pemeriksaan tidak terletak pada kemampuannya memberikan kepastian mutlak, tetapi pada kemampuannya membuat sebagian penjelasan lebih kuat dan sebagian lainnya lebih sulit dipertahankan.
Angka sendiri juga bukan keadaan yang diwakilinya. Nilai rasa sakit dari nol sampai sepuluh tidak menunjukkan berapa lama rasa itu berlangsung, apakah seseorang dapat tidur atau bergerak, apa yang harus ia hentikan, atau apa arti perubahan itu baginya. Dua orang dapat memberi angka yang sama untuk keadaan yang sangat berbeda. Setiap ukuran membuat sebagian hal terlihat dan membiarkan hal lain tidak terwakili.
Hal yang sama berlaku pada kata dan kategori. Sebuah nama membantu mengenali pola, tetapi nama itu tidak memuat seluruh keadaan. Sebutan “sakit ringan”, misalnya, dapat mencakup rasa yang sebentar lalu hilang, rasa yang terus mengganggu tidur, atau rasa yang tidak kuat tetapi membatasi gerak. Kategorinya berguna, tetapi keadaan orang-orang di dalamnya tidak menjadi sama karena diberi nama yang sama.
Orang lain juga memahami keadaan dari posisi yang berbeda. Orang yang mengalami rasa sakit mengenalnya dari dalam. Orang terdekat dapat melihat perubahan dalam gerak, tidur, atau kebiasaan. Orang yang memeriksa tubuh dapat menemukan pola yang tidak terasa langsung. Masing-masing dapat mengetahui sesuatu yang tidak diketahui oleh yang lain. Tidak satu sudut pandang pun otomatis memuat seluruh keadaan.
Perbedaan pandangan tidak berarti semua penjelasan sama benar. Namun ketidaksepakatan juga tidak selalu menunjukkan bahwa seseorang tidak jujur atau tidak mampu berpikir. Orang dapat memiliki fakta, pengalaman, perkiraan, atau kepentingan yang berbeda. Mengetahui bagian mana yang berbeda sering lebih berguna daripada hanya mengetahui bahwa mereka tidak setuju.
Sementara pemahaman diperiksa, tindakan tidak selalu dapat menunggu sampai seluruh ketidakpastian selesai. Informasi membutuhkan waktu dan tenaga. Sebagian informasi baru tersedia setelah keadaan tubuh berubah atau setelah suatu tindakan dicoba. Selama menunggu, rasa sakit dapat mereda, menetap, atau bertambah, sedangkan tubuh tetap dibutuhkan untuk tidur, bergerak, bekerja, dan merawat orang lain.
Menunggu kadang merupakan pilihan terbaik. Informasi tambahan mungkin segera tersedia, keadaan mungkin cukup stabil, dan kesalahan bertindak mungkin lebih berbahaya daripada keterlambatan. Dalam keadaan lain, penundaan justru mempersempit pilihan. Tidak bertindak bukan selalu keadaan tanpa akibat.
Karena itu, pertanyaannya bukan apakah masih ada sesuatu yang belum diketahui. Hampir selalu ada. Pertanyaan yang lebih penting adalah apakah informasi yang belum tersedia cukup mungkin mengubah tindakan, dan apa yang terjadi selama informasi itu ditunggu.
Pengetahuan yang lebih lengkap pun tidak menentukan pilihan dengan sendirinya.
Ketika tubuh sakit, seseorang dapat mengutamakan rasa sakit yang segera berkurang, kemampuan untuk tetap bergerak, pemahaman yang lebih baik tentang penyebabnya, kecilnya risiko dari tindakan yang diambil, atau pilihan yang tetap terbuka untuk kemudian. Langkah yang membantu satu tujuan dapat membebani tujuan lain. Tidak ada pemeriksaan tambahan yang dengan sendirinya menentukan tujuan mana yang harus didahulukan.
Fakta dapat membantu memperkirakan akibat dari setiap pilihan. Fakta tidak dapat menentukan akibat mana yang harus dianggap paling penting tanpa adanya tujuan atau nilai yang digunakan untuk menilainya.
Keputusan selalu memuat kedua hal tersebut: perkiraan mengenai apa yang mungkin terjadi dan pertimbangan mengenai hasil mana yang lebih layak dipilih. Kekeliruan dapat muncul ketika nilai diperlakukan seolah-olah dapat mengubah fakta, atau ketika fakta diminta menentukan tujuan dengan sendirinya.
Keterbatasan membuat persoalan ini tidak dapat diselesaikan dengan memilih semua hal yang baik sekaligus. Waktu, perhatian, tenaga, uang, dan ruang terbatas. Sumber daya yang digunakan untuk satu hal tidak sepenuhnya tersedia untuk hal lain. Sebagian pilihan juga menutup kemungkinan yang sebelumnya masih terbuka.
Memilih karena itu tidak hanya berarti memperoleh sesuatu. Memilih juga berarti menerima apa yang tidak dipilih. Keputusan yang baik tetap dapat memiliki biaya karena tidak selalu ada pilihan yang mempertahankan seluruh hal yang bernilai sekaligus.
Setelah pilihan dibuat, hasilnya masih belum sepenuhnya berada dalam kendali. Keadaan dapat berubah. Orang lain dapat merespons dengan cara yang tidak diperkirakan. Kejadian acak dapat membantu atau merusak hasil.
Sebuah keputusan yang masuk akal dapat tetap menghasilkan keadaan buruk jika tubuh berubah dengan cara yang tidak dapat diperkirakan atau informasi penting belum mungkin diketahui. Sebaliknya, keputusan yang ceroboh dapat terlihat berhasil hanya karena rasa sakit kebetulan mereda dengan sendirinya.
Hasil tetap penting, tetapi hasil tidak dengan sendirinya menunjukkan mutu keputusan yang mendahuluinya. Penilaian juga perlu mempertimbangkan informasi yang tersedia ketika keputusan dibuat, kemungkinan yang masuk akal saat itu, asumsi yang digunakan, risiko yang diketahui, dan alternatif yang sempat dipertimbangkan. Tanpa perbedaan ini, keberuntungan mudah dianggap sebagai kemampuan dan kesialan mudah dianggap sebagai kebodohan.
Akibat sebuah tindakan juga tidak berhenti pada orang yang mengambil keputusan. Keputusan untuk meneruskan kegiatan, menguranginya, meminta bantuan, atau menunda kewajiban dapat mengubah beban orang lain. Rasa sakit dialami dalam satu tubuh, tetapi akibatnya dapat masuk ke pekerjaan, keluarga, dan hubungan. Pilihan yang tampak pribadi dapat memiliki beban yang tidak terlihat dari tempat keputusan dibuat.
Rasa sakit berada dalam satu tubuh, tetapi kemampuan menghadapinya tidak dibentuk oleh tubuh itu saja. Makanan, pengetahuan, perawatan, waktu untuk pulih, dan bantuan ketika kemampuan berkurang bergantung pada orang lain. Sebagian besar manusia sejak awal hidup dan pada banyak saat sesudahnya bergantung pada perhatian serta pekerjaan yang tidak mereka hasilkan sendiri. Ketergantungan ini membuat batas antara keadaan pribadi dan akibat bersama tidak selalu tegas.
Tindakan kemudian dapat mengubah keadaan tempat keputusan berikutnya dibuat. Mengurangi kegiatan dapat mengubah rasa sakit dan kemampuan tubuh. Meneruskan kegiatan dapat menghasilkan perubahan lain. Bantuan dari orang lain dapat mengubah kebiasaan dan pembagian tanggung jawab. Setiap respons menghasilkan informasi baru, tetapi juga mengubah keadaan yang ingin dipahami.
Sebuah tindakan tidak hanya menghasilkan akibat. Ia juga dapat mengubah kebiasaan, harapan, pilihan, dan respons yang menentukan apa yang terjadi setelahnya. Sesuatu yang berhasil sekali belum tentu terus berhasil karena penerapannya sendiri dapat mengubah lingkungan tempat ia bekerja.
Karena itu, penalaran tidak selesai ketika tindakan dipilih. Hasil perlu diamati. Asumsi perlu dibandingkan dengan apa yang benar-benar terjadi. Tindakan perlu dapat berubah ketika keadaan atau pemahaman berubah.
Tidak ada cara yang menjamin bahwa seluruh kesalahan dapat dihindari. Semakin rumit keadaannya, semakin tidak realistis tuntutan tersebut. Namun perbedaan besar tetap ada antara keputusan yang kesalahannya sulit ditemukan dan keputusan yang menyediakan cara untuk mengetahui ketika sesuatu tidak berjalan sesuai dugaan.
Tindakan kecil dapat digunakan untuk memperoleh informasi sebelum membuat komitmen yang lebih besar. Perubahan rasa sakit dan kemampuan tubuh dapat diamati dari waktu ke waktu. Perkiraan dapat dicatat sebelum hasil diketahui. Langkah yang mudah dibatalkan dapat dibedakan dari perubahan yang sulit dibatalkan. Pengamatan orang lain dapat menunjukkan asumsi yang tidak terlihat dari pengalaman satu orang.
Tujuannya bukan mengganti penilaian sendiri yang mungkin salah dengan pandangan lain yang dianggap mustahil salah. Orang lain dapat keliru. Data dapat buruk. Aturan dapat kehilangan tujuannya. Pemeriksa pun perlu diperiksa.
Yang dibutuhkan adalah hubungan yang terus terbuka antara pemahaman dan keadaan yang sedang dipahami. Sebuah penjelasan perlu memiliki kemungkinan untuk gagal. Sebuah keputusan perlu menyatakan dasar yang digunakan. Sebuah tindakan perlu menghasilkan informasi yang dapat dipakai untuk menentukan apakah arah yang dipilih masih layak dipertahankan.
Hal ini tidak berarti bahwa semua keyakinan harus lemah atau semua keputusan harus ditunda. Pengetahuan dapat menjadi sangat kuat ketika didukung oleh bukti dari beberapa arah, menghasilkan perkiraan yang berulang kali terbukti, dan tetap bertahan ketika kemungkinan lain diperiksa. Keputusan juga dapat dibuat dengan tegas tanpa berpura-pura bahwa seluruh ketidakpastian telah hilang.
Manusia tidak dapat menunggu sampai mengetahui semuanya. Namun dugaan juga tidak perlu diperlakukan sebagai kepastian.
Di antara keduanya terdapat pekerjaan yang terus berlangsung: memahami keadaan sebaik mungkin, membedakan fakta dari penjelasan dan tujuan, memilih dengan menyadari apa yang dikorbankan, memperhatikan akibat bagi pihak lain, lalu memperbaiki arah ketika kenyataan menunjukkan sesuatu yang berbeda.
Pemahaman yang baik tidak harus mustahil salah. Ia perlu dapat diperiksa. Keputusan yang baik tidak harus menjamin hasil. Ia perlu menggunakan alasan yang dapat dinilai. Tindakan yang baik tidak harus menyelesaikan seluruh ketidakpastian. Ia perlu tetap berhubungan dengan akibat yang dihasilkannya dan dapat berubah ketika alasan untuk berubah muncul.