Apa yang Sebenarnya Diperdebatkan dalam Filsafat Moral?

Filsafat moral sering diperkenalkan melalui tiga nama besar: etika kebajikan, deontologi, dan konsekuensialisme. Pembagian itu berguna untuk membandingkan beberapa teori tentang tindakan dan kehidupan yang baik, tetapi menjadi menyesatkan jika dipakai sebagai peta seluruh filsafat moral. Hume, Nietzsche, Mackie, Rawls, Levinas, Gilligan, Habermas, dan Haidt tidak semuanya sedang menawarkan jawaban alternatif terhadap satu pertanyaan yang sama.[1] [2] [3] [4]

Sebagian pemikir bertanya apa yang membuat tindakan benar. Sebagian bertanya seperti apa karakter yang baik. Sebagian bertanya apakah fakta moral benar-benar ada. Sebagian menelusuri asal-usul nilai. Sebagian mempelajari bagaimana judgment moral terbentuk. Sebagian lagi mempertanyakan apakah satu teori moral sistematis memang dibutuhkan. Karena itu, peta yang lebih tepat harus membedakan bidang kajian, keluarga teori normatif, tradisi etis, posisi metaetis, metode kritik, dan penelitian empiris. Satu tokoh dapat mempunyai beberapa koordinat sekaligus.[1]

Pembedaan ini penting secara praktis. Jika data sudah cukup baik tetapi masih belum jelas apa yang seharusnya dilakukan, ketidakjelasan itu mungkin bukan lagi masalah bukti. Konfliknya bisa berada pada nilai, hak, distribusi akibat, pembenaran kepada orang lain, atau bahkan pada pertanyaan yang lebih dasar mengenai apa yang dimaksud dengan “benar”.

Empat tingkat pembahasan

Metaetika

Metaetika mengambil jarak dari putusan konkret dan bertanya tentang status pemikiran moral itu sendiri. Apakah klaim moral dapat benar atau salah? Apakah fakta moral ada? Jika ada, fakta macam apa? Bagaimana kita mengetahuinya? Apa hubungan antara judgment moral dan motivasi? Apakah moralitas bergantung pada sikap, budaya, prosedur rasional, respons manusia, atau kehendak ilahi?[1]

Pertanyaan “apakah berbohong itu salah?” merupakan pertanyaan normatif. Pertanyaan “ketika mengatakan berbohong itu salah, apakah seseorang sedang menyatakan fakta, mengekspresikan sikap, atau memberikan preskripsi?” merupakan pertanyaan metaetis. Keduanya berhubungan, tetapi tidak identik.[5] [6]

Etika normatif

Etika normatif bertanya bagaimana manusia seharusnya hidup dan bertindak. Di sini muncul persoalan tentang kebajikan, kewajiban, akibat, hak, pembenaran interpersonal, relasi, keadilan, dan kebaikan manusia. Virtue ethics, deontology, consequentialism, contractualism, natural-law ethics, care ethics, dan pendekatan lain terutama berada di wilayah ini.[2] [3] [4] [7]

Etika terapan

Etika terapan membawa alasan moral ke masalah konkret: perang, hukuman, aborsi, kedokteran, hewan, kemiskinan, bisnis, teknologi, kecerdasan buatan, lingkungan, ketimpangan, dan generasi mendatang. Etika terapan bukan teori moral tersendiri. Dua orang dapat membahas kasus yang sama dengan dasar normatif yang berbeda, misalnya melalui hak, kesejahteraan, otonomi, kebajikan, care, atau keadilan.[1]

Metafilosofi moral

Ada pula pertanyaan yang melintasi ketiga bidang tadi: apakah kehidupan etis memang sebaiknya dipahami melalui teori moral sistematis? Sidgwick, Rawls, Hare, Singer, dan Parfit mengembangkan proyek yang relatif sistematis. Anscombe, Bernard Williams, Iris Murdoch, Alasdair MacIntyre, Michael Stocker, dan Jonathan Dancy dalam cara yang berbeda mempertanyakan sebagian asumsi proyek tersebut. Perdebatannya bukan hanya teori mana yang benar, tetapi juga apa yang seharusnya dianggap sebagai bentuk penjelasan moral yang memadai.[8] [2]

Metaetika bukan satu daftar posisi

Kesalahan umum berikutnya adalah menulis “realism, naturalism, constructivism, sentimentalism, expressivism, error theory, relativism” sebagai pilihan yang seolah berada pada satu sumbu. Padahal istilah tersebut menjawab pertanyaan berbeda. Peta metaetika lebih jelas jika dibagi menurut dimensinya.[1]

Dimensi Pertanyaan utama Contoh posisi
Semantik Apakah klaim moral menyatakan sesuatu yang dapat benar atau salah? Cognitivism, non-cognitivism
Kebenaran dan ontologi Apakah ada kebenaran atau fakta moral? Moral realism, error theory, berbagai bentuk antirealism
Sifat fakta moral Jika fakta moral ada, fakta macam apa? Naturalism, non-naturalism
Ketergantungan Apakah kebenaran normatif bergantung pada sikap, prosedur, respons, budaya, atau kehendak? Constructivism, response-dependent views, relativism, divine-command approaches
Epistemologi Bagaimana keyakinan moral diketahui atau dibenarkan? Rationalism, intuitionism, sentimentalism, empirically informed approaches
Motivasi Apa hubungan judgment moral dan motivasi? Berbagai bentuk internalism dan externalism

Semantik: cognitivism dan non-cognitivism

Cognitivism secara umum memahami pernyataan moral sebagai sesuatu yang mengekspresikan belief dan dapat dinilai benar atau salah. Non-cognitivism menolak gambaran tersebut dalam bentuk yang berbeda. Ayer dan Stevenson mengembangkan emotivisme; Hare mengembangkan prescriptivism; Blackburn dan Gibbard kemudian mengembangkan expressivism yang lebih sophisticated. Pembedaan semantik ini tidak identik dengan pertanyaan apakah tindakan tertentu benar.[5]

Kebenaran: realism dan error theory

Moral realism dalam arti minimal mempertahankan bahwa klaim moral memang berpretensi melaporkan fakta dan bahwa setidaknya sebagian klaim itu benar. Definisi yang lebih kuat kadang menambahkan independence atau objectivity tertentu, tetapi tidak semua realis menyusun komitmennya dengan cara identik. Karena itu realism tidak sebaiknya didefinisikan hanya sebagai “moral sepenuhnya independen dari semua respons manusia”.[6]

J. L. Mackie mengambil jalur berbeda. Error theory menerima bahwa bahasa moral berusaha menyatakan fakta objektif, tetapi menyangkal adanya fakta objektif yang dibutuhkan. Ini berbeda dari emotivisme: error theorist menganggap klaim moral mempunyai bentuk kognitif tetapi gagal, sedangkan non-cognitivist mengubah penjelasan tentang fungsi klaim moral tersebut.[1] [6]

Sifat fakta: naturalism dan non-naturalism

Jika fakta moral ada, pertanyaan berikutnya adalah apakah ia dapat dijelaskan sebagai bagian dari dunia alamiah. Berbagai bentuk ethical naturalism menghubungkan fakta normatif dengan fakta mengenai kesejahteraan, kebutuhan, flourishing, bentuk kehidupan, relasi, atau properti alamiah lainnya. Non-naturalism menolak reduksi semacam itu dalam bentuk tertentu. G. E. Moore merupakan tokoh historis penting bagi non-naturalism modern melalui Principia Ethica (1903).[1]

Aristoteles atau Philippa Foot sering ditempatkan dekat bentuk naturalistic objectivism dalam pembacaan tertentu, tetapi klasifikasi tersebut merupakan interpretasi. Peta yang baik harus membedakan gagasan asli seorang pemikir dari label modern yang digunakan untuk membandingkannya.[2]

Ketergantungan: constructivism, relativism, response-dependence

Constructivism berusaha menjelaskan normativitas melalui prosedur atau kondisi deliberasi tertentu. Rawls memperkenalkan istilah “Kantian constructivism” dalam perdebatan modern, sementara Korsgaard dan Street mengembangkan bentuk yang berbeda. Hubungan constructivism dengan realism dan antirealism sendiri diperdebatkan. Bahkan status constructivism sebagai teori metaetis, teori normatif, atau posisi yang melintasi keduanya tidak sepenuhnya seragam dalam literatur.[9]

Relativism menghubungkan kebenaran atau keberlakuan moral dengan budaya, kerangka, atau standpoint tertentu. Fakta bahwa masyarakat berbeda pendapat belum membuktikan relativism, karena disagreement dapat muncul meskipun ada kebenaran objektif. Sebaliknya, kesepakatan luas juga belum membuktikan objectivity.[1]

Response-dependent theories menambah kemungkinan lain: nilai dapat mempunyai hubungan konstitutif dengan respons agen yang sesuai tanpa karena itu menjadi selera individual sederhana. Kemungkinan seperti ini menunjukkan mengapa sumbu “objektif versus subjektif” sering terlalu kasar untuk memetakan metaetika.[6]

Pengetahuan: reason, intuition, sentiment, experience

Epistemologi moral bertanya bagaimana manusia memperoleh pembenaran moral. Kant memberi peran sentral kepada reason. Prichard dan Ross merupakan tokoh penting intuitionism. Hume dan Adam Smith menempatkan sentiment, sympathy, dan respons evaluatif pada posisi yang sangat penting. Dewey menghubungkan penilaian dengan inquiry dan pengalaman. Posisi mengenai pengetahuan tidak otomatis menentukan posisi ontologis. Seorang sentimentalist dapat tetap mempertahankan bentuk objectivity tertentu.[10] [11]

Motivasi: internalism dan externalism

Pertanyaan lain adalah mengapa judgment moral mempunyai hubungan dengan tindakan. Berbagai bentuk motivational internalism mempertahankan hubungan internal atau niscaya tertentu antara judgment moral yang tulus dan motivasi. Externalism menyangkal hubungan niscaya tersebut dan menganggap motivasi membutuhkan unsur tambahan. Bahkan istilah internalism sendiri mempunyai beberapa penggunaan dalam literatur, sehingga perlu dibedakan antara internalism tentang judgment, reasons, dan motivation.[12] [13]

Keluarga normatif sebagai peta kerja

Tidak ada daftar keluarga normatif yang sepenuhnya baku. Untuk orientasi, beberapa pola pembenaran berikut cukup berguna. Batasnya dapat tumpang tindih, dan pendekatan tertentu dapat ditempatkan sebagai subkeluarga atau pendekatan lintas keluarga.

Keluarga atau pendekatan Pertanyaan pusat Tokoh atau tradisi representatif
Virtue dan eudaimonism Orang seperti apa yang baik, dan seperti apa kehidupan yang berkembang? Aristotle, tradisi Confucian tertentu, Stoa, Foot, MacIntyre, Hursthouse
Deontology Apa yang wajib, terlarang, dan boleh dilakukan? Kant, Prichard, Ross, O'Neill, Korsgaard, Kamm
Consequentialism Tindakan atau aturan mana menghasilkan akibat terbaik? Bentham, Mill, Sidgwick, Singer; Mozi sering dibandingkan sebagai pendahulu
Contractarian approaches Aturan kerja sama apa yang rasional bagi agen yang mempunyai kepentingan? Hobbes, Gauthier
Contractualism Prinsip apa yang dapat dibenarkan kepada setiap orang? Scanlon; Rawls berdekatan dalam tradisi kontrak sosial Kantian tetapi mempunyai proyek berbeda
Natural-law ethics Apa yang dapat practical reason ketahui tentang human goods, flourishing, dan tindakan yang sesuai? Cicero, Aquinas, Finnis
Care dan relational ethics Apa kewajiban yang muncul dari relasi, ketergantungan, care, dan vulnerability? Gilligan, Noddings, Held, Kittay; beberapa tradisi relasional berdekatan tetapi tidak identik
Discourse ethics Norma apa yang dapat dibenarkan melalui diskursus bebas di antara pihak terdampak? Habermas, Apel

Virtue ethics dan eudaimonism

Virtue ethics menempatkan karakter, kebajikan, practical wisdom, dan kehidupan yang baik di pusat analisis. Aristotle adalah sumber utama dalam tradisi Barat, tetapi pendekatan berbasis karakter juga mempunyai analogi dan perkembangan independen di tradisi lain. Dalam etika kebajikan, pertanyaan “apa yang dilakukan orang baik dalam situasi ini?” dapat lebih fundamental daripada pencarian aturan tunggal.[2] [14]

Deontology

Deontology menilai tindakan melalui kewajiban, larangan, izin, atau hak yang tidak direduksi seluruhnya menjadi konsekuensi. Kant adalah tokoh sentral, tetapi deontologi kontemporer mencakup teori agent-centered, patient-centered, rights-based, dan pluralist. W. D. Ross, misalnya, mengembangkan beberapa prima facie duties yang dapat bertabrakan dan membutuhkan judgment konkret.[3]

Consequentialism

Consequentialism memberi peran penentu kepada konsekuensi. Utilitarianisme klasik Bentham dan Mill merupakan bentuk terkenal, tetapi keluarga ini juga mencakup variasi mengenai apa yang dinilai, apa yang dianggap baik, apakah yang dievaluasi tindakan atau aturan, dan bagaimana uncertainty ditangani. Karena itu consequentialism tidak dapat disamakan dengan satu rumus “jumlah kebahagiaan terbesar”.[4]

Mozi sering dibandingkan dengan consequentialism karena menilai kebijakan melalui manfaat bagi masyarakat dan menentang perang agresif serta kemewahan tertentu. Tetapi “proto-consequentialist” atau “consequentialist” tetap merupakan label komparatif modern terhadap teks Tiongkok awal, bukan nama yang diberikan Mozi pada teorinya sendiri.[15]

Contractarianism dan contractualism

Pembedaan antara contractarianism dan contractualism berguna, tetapi penggunaan terminologinya tidak sepenuhnya seragam. Garis Hobbesian biasanya menghubungkan aturan moral dengan keuntungan kerja sama bagi agen rasional. Scanlonian contractualism berangkat dari equal moral standing dan justifiability kepada orang lain. Rawls lebih aman disebut bagian dari tradisi kontrak sosial Kantian dengan proyek khusus tentang keadilan institusional, bukan sekadar versi Scanlon.[7] [16]

Natural law

Natural-law ethics tidak sebaiknya dipahami sebagai deduksi sederhana dari fakta biologis menuju kewajiban. Pada Aquinas, natural law berkaitan dengan practical reason, kebaikan, natural inclinations, kebajikan, hukum, dan flourishing dalam kerangka teologis yang lebih luas. Pemikir modern seperti Finnis mengembangkan teori natural law dengan bahasa basic goods dan practical reason yang berbeda dari ringkasan “alam menentukan moral”.[17]

Care dan relational ethics

Care ethics berkembang kuat setelah karya Carol Gilligan dan Nel Noddings, lalu diperluas oleh Virginia Held, Eva Kittay, Joan Tronto, dan banyak pemikir lain. Fokusnya mencakup dependency, vulnerability, care work, particular relationships, dan kritik terhadap model agen moral yang terlalu abstrak. Feminist ethics sendiri jauh lebih luas daripada care ethics dan juga mencakup dominasi, oppression, intersectionality, embodiment, serta kritik terhadap institusi dan teori kanonik.[18]

Levinas atau Watsuji dapat ditempatkan dekat peta relasional untuk tujuan orientasi, tetapi tidak sebaiknya diperlakukan sebagai anggota sederhana dari care ethics kontemporer. Kesamaan tema tidak menghapus perbedaan fenomenologis, historis, dan metodologis.

Discourse ethics

Habermas mengembangkan discourse ethics dalam hubungan erat dengan teori communicative action. Prinsip dasarnya menghubungkan validitas norma dengan kemungkinan penerimaan oleh semua pihak yang terdampak dalam practical discourse yang tidak dipaksakan. Teori ini memiliki akar Kantian dan dapat dilihat dekat procedural atau contractualist approaches, sehingga statusnya sebagai keluarga terpisah adalah pilihan pemetaan, bukan batas mutlak.[19]

Pendekatan yang melintasi keluarga

Beberapa kerangka penting tidak pas jika dipaksa menjadi satu keluarga normatif yang setara dengan tiga teori klasik.

Rights-based approaches

Hak dapat muncul dalam deontology, natural law, liberal political philosophy, atau contractualism. Locke, Nozick, Judith Jarvis Thomson, dan Ronald Dworkin menggunakan gagasan hak dalam proyek yang sangat berbeda. Karena itu “rights-based ethics” lebih tepat diperlakukan sebagai koordinat lintas keluarga daripada teori tunggal.

Capability approach

Capability approach yang dipelopori Amartya Sen dan dikembangkan secara berbeda oleh Martha Nussbaum berfokus pada kebebasan substantif, yaitu apa yang sungguh dapat dilakukan dan dijalani seseorang. Literatur biasanya memahami capability approach sebagai framework yang fleksibel bagi evaluasi kesejahteraan, pembangunan, dan keadilan, bukan satu teori moral lengkap. Ini menjelaskan mengapa ia dapat digabung dengan komitmen normatif tambahan yang berbeda.[20]

Feminist ethics

Feminist ethics tidak identik dengan care ethics. Ia mencakup spektrum pendekatan deontologis, consequentialist, virtue-based, pragmatist, relational, intersectional, non-ideal, dan critical. Kesamaannya lebih terletak pada perhatian terhadap cara gender, dominasi, dan perspektif yang dimarginalkan membentuk teori dan praktik moral.[18]

Moral particularism

Particularism bukan hanya kritik bahwa teori terlalu kaku. Jonathan Dancy dan particularists lain mempertahankan tesis substantif bahwa rationality of moral judgment tidak harus bergantung pada kumpulan prinsip umum yang tetap. Relevansi normatif suatu feature dapat berubah menurut konteks. Karena itu particularism lebih tepat ditempatkan sebagai pandangan tentang struktur alasan moral, bukan sekadar metode kritik.[8]

Tradisi etis lebih luas daripada teori normatif

Tradisi etis biasanya mencakup metafisika, psikologi, latihan hidup, pendidikan, politik, dan pandangan mengenai tujuan manusia. Memaksanya ke satu kotak teori sering menghilangkan struktur penting.

Stoisisme

Stoisisme sejak Zeno dan Chrysippus sampai Seneca, Epictetus, dan Marcus Aurelius menghubungkan etika dengan logic dan physics. Struktur etikanya eudaimonist: flourishing merupakan tujuan, tetapi virtue dianggap fundamental bagi kehidupan baik. Stoic ethics juga mengembangkan gagasan hidup sesuai nature, pengelolaan judgment, oikeiōsis, kosmopolitanisme, dan perbedaan antara nilai moral dengan external goods.[21]

Epicureanisme

Epicurus menempatkan pleasure sebagai kebaikan, tetapi pleasure yang dimaksud tidak identik dengan konsumsi tanpa batas. Ataraxia, aponia, pengelolaan desire, persahabatan, dan penghilangan ketakutan terhadap kematian menjadi pusat kehidupan baik. Teori keadilannya juga memiliki unsur agreement untuk saling tidak merugikan, sehingga Epicureanism melintasi kategori yang dalam peta modern disebut hedonism, eudaimonism, dan contract approaches.[14]

Tradisi etika Tiongkok

Chinese ethical thought mencakup Confucianism, Mohism, Daoism, Legalism, dan perkembangan Buddhis. Confucius menekankan cultivation, ren, li, yi, relasi, dan teladan. Mencius dan Xunzi berbeda tajam tentang human nature serta bagaimana kapasitas moral berkembang. Mozi mengkritik partiality tertentu dan menekankan manfaat sosial. Daoist texts mempertanyakan kodifikasi nilai dan bentuk pemaksaan. Karena itu “Chinese ethics” tidak dapat direduksi menjadi Confucian virtue ethics saja.[15] [22]

Etika Buddhis

Buddhist ethics menghubungkan moral discipline dengan dukkha, craving, intention, compassion, mental cultivation, dan liberation. Kategori Barat seperti “virtue ethics” atau “consequentialism” dapat membantu perbandingan, tetapi tidak selalu mempunyai padanan tepat dalam teks Buddhis. Peta komparatif perlu menghindari asumsi bahwa semua tradisi harus dapat diterjemahkan tanpa sisa ke kategori modern Barat.[23]

Etika Islam

Islamic ethical thought juga tidak mempunyai satu teori tunggal. Perdebatan klasik mengenai husn dan qubh membahas apakah baik-buruk dapat diketahui reason secara independen atau memperoleh force dari divine command. Mu'tazilah, Ash'ariyah, dan Maturidiyah memberikan konfigurasi berbeda. Filsuf seperti al-Farabi dan Ibn Miskawayh mengembangkan eudaimonist dan virtue-oriented accounts, sementara al-Ghazali menggabungkan theology, intention, character formation, dan spiritual psychology. Kategori metaetika, virtue ethics, divine-command theory, dan jurisprudence dapat bersilangan dalam satu tradisi.[24]

Eksistensialisme

Kierkegaard, Nietzsche, Heidegger, Sartre, Beauvoir, dan Camus sering dikelompokkan sebagai existential thinkers, tetapi tidak mempunyai satu teori normatif bersama. Tema seperti freedom, responsibility, authenticity, nihilism, ambiguity, commitment, finitude, dan oppression muncul dengan konfigurasi berbeda. Heidegger bahkan tidak berusaha menulis normative ethics konvensional. Nietzsche lebih tepat dipahami melalui critique of morality, genealogy, perfection, dan revaluation daripada hanya slogan “menciptakan nilai sendiri”.[25]

Pragmatisme

William James dan John Dewey menempatkan moral problem dalam konteks inquiry, habit, pluralism, consequences, dan revisability. Pada Dewey, moral judgment bukan penerapan mekanis aturan final, tetapi penyelidikan terhadap situasi bermasalah yang dapat mengubah pemahaman tentang means dan ends. Pragmatism karena itu dapat bersentuhan dengan consequential reasoning tanpa identik dengan classical consequentialism.

Ubuntu dan tradisi relasional Afrika

Berbagai pemikir Ubuntu menekankan personhood, community, shared identity, solidarity, harmony, dan reconciliation. Namun Ubuntu sendiri mempunyai interpretasi yang beragam. Menempatkannya sebagai “relational ethics” dapat membantu perbandingan, tetapi tidak berarti seluruh tradisi Afrika mempunyai satu teori atau bahwa konsep lokal dapat digantikan begitu saja dengan kategori Western communitarianism.

Metode kritik tidak sama dengan posisi metaetis

Genealogy

Nietzsche menggunakan genealogy untuk menelusuri bagaimana nilai, guilt, ressentiment, dan ascetic ideals terbentuk. Metode ini tidak hanya mencari kronologi, tetapi berusaha mengubah evaluasi kita terhadap nilai dengan menunjukkan kondisi yang membuatnya lahir. Genealogy adalah cara menginterogasi moralitas, bukan dengan sendirinya satu jawaban terhadap semua pertanyaan tentang moral truth.[25]

Ideology critique

Marx dan tradisi kritik ideologi menanyakan hubungan antara gagasan, institusi, class relations, material structures, dan power. Kritik semacam ini dapat menunjukkan bahwa norma yang tampak universal mempunyai fungsi sosial tertentu. Tetapi penjelasan tentang fungsi atau asal sosial sebuah nilai masih perlu dibedakan dari argumen normatif mengenai apakah nilai itu benar atau layak dipertahankan.

Evolutionary debunking

Debunking arguments kontemporer menanyakan apakah evolutionary origins dari sikap evaluatif manusia merusak alasan untuk percaya bahwa judgment tersebut melacak moral truth. Sharon Street dan Richard Joyce merupakan tokoh penting dalam debat modern. Tetapi evolutionary explanation tidak dengan sendirinya membuktikan antirealism. Tantangan muncul ketika cerita kausal tentang asal belief dikombinasikan dengan argumen tentang reliability atau justification.[6] [9]

Penelitian empiris bukan teori tentang apa yang benar

Moral psychology mempelajari bagaimana judgment, emotion, empathy, motivation, character, development, conformity, dan bias bekerja. Kohlberg mengembangkan stage theory perkembangan moral. Gilligan mengkritik aspek justice-centered model tersebut. Haidt menekankan peran intuition dalam judgment. Greene menggunakan metode eksperimental dan neuroscience dalam kajian dilema moral. Experimental philosophy memperluas pengujian terhadap intuition dan konsep filosofis menggunakan data empiris.[26] [18]

Temuan empiris dapat menantang asumsi psikologis teori normatif. Jika karakter ternyata sangat sensitif pada situasi, misalnya, beberapa bentuk virtue theory perlu menjelaskan implikasinya. Jika moral intuition berubah kuat karena framing, penggunaan intuition sebagai evidence juga perlu diperiksa. Namun dari fakta bahwa manusia cenderung menilai X belum otomatis mengikuti bahwa manusia seharusnya menilai X. Penjelasan deskriptif dan pembenaran normatif tetap berbeda.[1] [26]

Delapan pergeseran historis besar

Sejarah berikut bukan cerita bahwa setiap tahap lebih baik dan menggantikan tahap sebelumnya. Hampir semua cabang lama tetap hidup, kembali berkembang, atau berinteraksi dengan cabang lain. Periodisasi ini hanya menunjukkan perubahan pusat pertanyaan yang menjadi eksplisit.

1. Pluralitas etika kuno, sekitar abad ke-6 SM sampai abad ke-2 M

Dunia kuno sudah plural. Socrates, Plato, Aristotle, Epicurus, Stoa, dan kaum Sofis berbeda tentang knowledge, virtue, pleasure, nature, convention, dan flourishing. Pada waktu yang berdekatan, tradisi Tiongkok memperdebatkan virtue, ritual, impartial care, human nature, governance, dan Dao; tradisi India mengembangkan persoalan duty, suffering, karma, non-violence, intention, dan liberation. Tidak pernah ada satu “etika kuno” tunggal.[14] [15] [23]

2. Rekonfigurasi akal, wahyu, hukum, kebajikan, dan keselamatan, sekitar abad ke-4 sampai ke-14

Tradisi religius tidak menciptakan konsep obligation dari nol. Yang berubah adalah hubungan antara law, reason, divine will, virtue, intention, sin, salvation, dan human good. Augustine, Maimonides, al-Farabi, Ibn Miskawayh, al-Ghazali, Aquinas, Scotus, Ockham, serta perdebatan Mu'tazilah dan Ash'ariyah menunjukkan keragaman konfigurasi tersebut.[17] [24]

3. Pencarian dasar moral modern, sekitar 1600–1800

Perubahan politik, religious conflict, commercial society, dan perkembangan ilmu membuat pertanyaan mengenai dasar moral semakin mendesak ketika satu kerangka teologis tidak dapat diasumsikan sebagai premis bersama. Hobbes mengembangkan jalur agreement dan cooperation. Hutcheson, Hume, dan Smith mengembangkan moral sense dan sentiment. Kant menempatkan practical reason dan autonomy di pusat. Bentham mengembangkan utilitarianism. Jalur tersebut muncul secara tumpang tindih, bukan sebagai tangga yang satu menggantikan lainnya.[27] [3] [4]

4. Abad kecurigaan, sekitar pertengahan abad ke-18 sampai awal abad ke-20

Pertanyaan “apa yang benar?” semakin sering disertai “mengapa kita percaya bahwa ini benar?”. Marx menelusuri hubungan ideology dan material relations. Darwin membuka penjelasan evolusioner tentang moral capacities. Nietzsche menggunakan genealogy. Freud kemudian mengembangkan penjelasan psikologis mengenai conscience dan superego. Sejak sini, asal-usul belief menjadi bagian penting dari kritik moral, meskipun origin dan justification tetap perlu dibedakan.[25] [1]

5. Metaetika analitik menjadi bidang eksplisit, sekitar 1903–1970-an

Moore menjadikan sifat “good” pusat perdebatan pada awal abad ke-20. Prichard dan Ross mengembangkan intuitionist deontology. Ayer dan Stevenson mengembangkan emotivism. Hare mengembangkan prescriptivism. Mackie kemudian mengembangkan error theory. Dalam banyak bagian filsafat analitik pertengahan abad ke-20, pertanyaan tentang language, truth, meaning, objectivity, dan justification moral memperoleh dominasi besar. Ini tidak berarti normative ethics berhenti, tetapi pusat institusional dan metodologisnya berubah.[1] [5]

6. Pluralisasi teori setelah sekitar 1950-an

Anscombe dan Foot membantu menghidupkan kembali virtue ethics. Rawls memperbarui political normative theory dan social-contract tradition. Singer mengembangkan utilitarian applied ethics. Nozick menekankan rights. Williams mengkritik moral system. Gilligan dan Noddings membuka jalur care ethics. Habermas mengembangkan discourse ethics. Sen dan Nussbaum mengembangkan capability approach. Scanlon mengembangkan contractualism. Alih-alih satu paradigma menang, filsafat moral akhir abad ke-20 menjadi semakin plural.[2] [7] [18] [19] [20]

7. Perluasan subjek pertimbangan moral, terutama abad ke-18 sampai sekarang

Pertanyaan “siapa yang dihitung?” semakin diperluas dan diperdebatkan: perempuan, orang yang diperbudak dan keturunannya, kelompok yang mengalami racial dan colonial domination, hewan, penyandang disabilitas, orang asing, generasi mendatang, dan bahkan ecological communities. Perkembangan ini tidak berlangsung lurus. Bahasa universal sering hidup berdampingan dengan perbudakan, kolonialisme, patriarki, racial hierarchy, dan exclusion. Beberapa pemikir yang merumuskan prinsip universal juga mempertahankan pandangan historis yang mengecualikan kelompok tertentu. “Perluasan moral circle” karena itu lebih tepat dipahami sebagai arena konflik dan revisi daripada kemajuan otomatis.[18] [20]

8. Peralihan empiris, terutama sejak pertengahan abad ke-20

Pertanyaan lama mengenai reason, emotion, character, intuition, dan moral development mulai diteliti dengan metode psychology, neuroscience, behavioral experiments, dan experimental philosophy. Data tersebut tidak memenangkan satu teori moral secara otomatis, tetapi mengubah standar bukti bagi klaim yang bergantung pada gambaran tentang cara manusia sebenarnya berpikir dan bertindak.[26] [11]

Tokoh lebih baik diberi koordinat daripada satu label

Satu cara menghindari penyederhanaan adalah memberi setiap tokoh beberapa koordinat.

Tokoh Bidang utama Koordinat yang berguna Catatan
Socrates Normatif, moral psychology Ethical intellectualism Dikenal terutama melalui Plato dan sumber lain; “virtue is knowledge” sendiri memerlukan interpretasi
Plato Normatif, metaetis Virtue, justice, Form of the Good Sering dibaca realist, tetapi label modern perlu digunakan hati-hati
Aristotle Normatif Virtue, eudaimonism, phronesis Sering ditempatkan dekat naturalistic objectivism dalam pembacaan modern
Confucius Normatif, sosial Virtue, role, ritual, cultivation Kemiripan dengan virtue ethics membantu tetapi tidak menghabiskan tradisinya
Hume Metaetika, moral psychology Sentimentalism, naturalistic explanation Tidak mudah direduksi menjadi satu normative family
Kant Normatif, foundations Deontology, autonomy, rationalism Sumber utama constructivism modern dalam sebagian pembacaan, bukan label final Kant sendiri
Mill Normatif, politik Utilitarianism, liberty Menghubungkan utility dengan justice dan individuality
Nietzsche Genealogy, moral psychology Critique of morality, revaluation Bukan sekadar relativist atau teori “bebas membuat nilai”
Rawls Political normative theory Justice as fairness, social-contract tradition Political constructivism, bukan sama dengan Scanlonian contractualism
Scanlon Normatif, reasons Contractualism Fokus pada justifiability dan reasonable rejection
Singer Normatif, applied Utilitarianism, impartial consideration Animal ethics dan global poverty memperluas medan penerapan
Foot Normatif, metaetis Virtue, natural goodness Salah satu pusat revival virtue ethics
Williams Normatif, metafilosofi Integrity, moral luck, critique of moral system Menolak reduksi kehidupan etis ke satu sistem kewajiban
Habermas Normatif, social theory Discourse ethics Procedural dan intersubjective justification
Nussbaum Normatif, politik, applied Capability approach, Aristotelian influences Tidak identik dengan Sen meskipun satu keluarga pendekatan
Korsgaard Normatif, metaetis Kantian ethics, constructivism Menyelidiki sumber normativity melalui agency dan practical identity

Tabel itu bukan klasifikasi final. Fungsinya justru menunjukkan bahwa satu nama dapat berada pada beberapa sumbu sekaligus.

Pertanyaan besar yang menghubungkan seluruh peta

Daripada menghafal aliran, peta ini dapat dibaca melalui pertanyaan.

Apa yang membuat seseorang baik? Socrates menekankan knowledge; Aristotle character dan practical wisdom; Confucian traditions cultivation dan relation; Augustine ordered love; Murdoch attention; care ethics relational responsibility.

Apa yang membuat tindakan benar? Kantian deontology menekankan duty dan respect; consequentialism consequences; Scanlon justifiability; natural law practical reason dan human goods; care ethics kebutuhan konkret dalam relasi; particularism sensitivity terhadap context.[2] [3] [4] [7] [8]

Dari mana normativitas berasal? Jawabannya dapat berupa reason, sentiment, divine command, natural goods, agreement, practical standpoint, social practice, atau kemungkinan lain. Pertanyaan ini berbeda dari pertanyaan tindakan mana yang benar.[1] [9] [10]

Apakah moral objektif? Pertanyaan ini perlu diurai. Apakah klaim moral truth-apt? Apakah ada moral facts? Apakah truth bergantung pada response atau standpoint? Apakah universal applicability sama dengan metaphysical objectivity? Tanpa pemisahan tersebut, “objektif versus subjektif” menutupi beberapa perdebatan sekaligus.[1] [6]

Siapa yang harus diperhitungkan? Sejarah moral memperlihatkan konflik mengenai warga, perempuan, orang asing, kelompok yang ditindas, hewan, penyandang disabilitas, generasi mendatang, dan lingkungan. Perluasan ruang pertimbangan tidak menentukan sendiri teori normatif yang benar, karena Singer, rights theorists, capability theorists, dan environmental ethicists dapat memperluas lingkaran dengan alasan yang berbeda.

Apakah akibat menentukan moralitas? Consequentialists memberikan peran penentu kepada consequence. Deontologists mempertahankan constraints tertentu. Virtue theorists menekankan character dan judgment. Williams dan Nagel menunjukkan bahwa moral luck membuat hubungan agency, control, dan outcome lebih rumit.

Apakah mengetahui yang baik cukup untuk melakukannya? Socrates cenderung menghubungkan knowledge dan virtue secara kuat. Aristotle membahas akrasia. Hume menolak bahwa reason sendiri memotivasi. Modern moral psychology meneliti hubungan judgment, emotion, habit, dan action secara empiris.[12]

Apakah moral boleh menuntut terlalu banyak? Impartialist consequentialism dapat menghasilkan tuntutan besar. Williams menekankan integrity dan personal projects. Susan Wolf menunjukkan nilai yang tidak seluruhnya moral. Teori hak, supererogation, dan agent-centered prerogatives menawarkan batas yang berbeda terhadap moral demandingness.

Apakah kita membutuhkan teori moral sistematis? Sidgwick dan Parfit mencari sistemasi besar. Williams, Murdoch, MacIntyre, Dancy, dan pemikir lain menunjukkan dengan cara berbeda bahwa character, tradition, attention, context, dan thick ethical concepts mungkin tidak dapat direduksi ke satu decision procedure.[8]

Cara memakai peta ini

Peta ini tidak memberikan mesin yang mengubah fakta menjadi satu jawaban moral. Ia membantu memastikan bahwa konflik tidak salah didiagnosis.

Jika dua orang berbeda tentang prediksi akibat, masalahnya mungkin empiris.

Jika mereka sepakat tentang akibat tetapi berbeda tentang apakah satu orang boleh dikorbankan untuk banyak orang, konflik mungkin normatif.

Jika mereka sepakat tentang tindakan tetapi berbeda mengenai alasan yang membuatnya benar, konflik dapat berada pada normative justification atau metaethics.

Jika seseorang menunjukkan bahwa nilai tertentu terbentuk dari sejarah domination, ia sedang memberi genealogy atau ideology critique. Itu belum otomatis menyelesaikan ontologi moral.

Jika eksperimen menunjukkan intuition berubah karena framing, ia memberi evidence tentang moral psychology. Itu belum otomatis menentukan prinsip normatif yang benar.

Jika seorang filsuf menolak satu sistem prinsip dan menekankan context-sensitive judgment, ia mungkin sedang mengajukan particularism atau kritik metafilosofis, bukan sekadar menawarkan “teori moral baru” yang setara dengan utilitarianism.

Perbedaan jenis pertanyaan tersebut membuat perdebatan lebih dapat diperiksa. Ia juga mencegah argumen berpindah tingkat tanpa disadari, misalnya menggunakan fakta bahwa suatu nilai mempunyai sejarah sosial sebagai bukti langsung bahwa nilai itu salah, atau menggunakan popularitas suatu intuisi sebagai bukti langsung bahwa intuisi itu benar.

Tidak ada angka final

Karena itu, pertanyaan “ada berapa kategori moral?” tidak mempunyai satu jawaban numerik.

Jika yang dimaksud bidang, pembagian yang berguna adalah metaetika, etika normatif, dan etika terapan, dengan metafilosofi moral sebagai pertanyaan lintas bidang.

Jika yang dimaksud keluarga normatif, virtue ethics, deontology, consequentialism, contract approaches, natural law, care, dan discourse ethics memberikan peta kerja, sementara rights, capabilities, feminist ethics, dan particularism melintasi atau menambah dimensi lain.

Jika yang dimaksud metaetika, peta harus dibagi lagi menurut semantics, truth, ontology, dependence, epistemology, dan motivation.

Jika yang dimaksud tradisi, jumlahnya jauh lebih besar: Stoic, Epicurean, Confucian, Daoist, Buddhist, Christian, Islamic, Jewish, existential, pragmatist, Ubuntu, feminist, ecological, dan berbagai tradisi lain yang masing-masing mempunyai perdebatan internal.

Jika yang dimaksud cara mengkritik dan meneliti moralitas, genealogy, ideology critique, evolutionary debunking, moral psychology, dan experimental philosophy bahkan bukan kategori yang sama jenisnya.

Maka peta filsafat moral lebih tepat dibayangkan sebagai koordinat daripada daftar kotak. Seseorang perlu mengetahui pertanyaan apa yang sedang dijawab, jenis alasan apa yang digunakan, dan pada tingkat mana ketidaksepakatan terjadi. Baru setelah itu Aristotle, Hume, Kant, Mill, Nietzsche, Rawls, Singer, Scanlon, Levinas, MacIntyre, dan pemikir lain dapat dibandingkan tanpa memaksa mereka mengikuti satu kompetisi yang sebenarnya tidak mereka ikuti.

Referensi

  1. Sayre-McCord, G. (2023). “Metaethics.” Stanford Encyclopedia of Philosophy. Sumber.

  2. Hursthouse, R., & Pettigrove, G. “Virtue Ethics.” Stanford Encyclopedia of Philosophy. Sumber.

  3. Alexander, L., & Moore, M. (2024). “Deontological Ethics.” Stanford Encyclopedia of Philosophy. Sumber.

  4. Sinnott-Armstrong, W. “Consequentialism.” Stanford Encyclopedia of Philosophy. Sumber.

  5. van Roojen, M. “Moral Cognitivism vs. Non-Cognitivism.” Stanford Encyclopedia of Philosophy. Sumber.

  6. Sayre-McCord, G. (2026). “Moral Realism.” Stanford Encyclopedia of Philosophy. Sumber.

  7. Ashford, E., & Mulgan, T. “Contractualism.” Stanford Encyclopedia of Philosophy. Sumber.

  8. Dancy, J. “Moral Particularism.” Stanford Encyclopedia of Philosophy. Sumber.

  9. Bagnoli, C. (2025). “Constructivism in Metaethics.” Stanford Encyclopedia of Philosophy. Sumber.

  10. Kauppinen, A. “Moral Sentimentalism.” Stanford Encyclopedia of Philosophy. Sumber.

  11. “Moral Epistemology.” Stanford Encyclopedia of Philosophy. Sumber.

  12. Rosati, C. “Moral Motivation.” Stanford Encyclopedia of Philosophy. Sumber.

  13. Finlay, S., & Schroeder, M. “Reasons for Action: Internal vs. External.” Stanford Encyclopedia of Philosophy. Sumber.

  14. “Ancient Ethical Theory.” Stanford Encyclopedia of Philosophy. Sumber.

  15. Wong, D. (2023). “Chinese Ethics.” Stanford Encyclopedia of Philosophy. Sumber.

  16. Cudd, A. “Contractarianism.” Stanford Encyclopedia of Philosophy. Arsip.

  17. “Thomas Aquinas.” Stanford Encyclopedia of Philosophy. Sumber.

  18. Norlock, K. (2025). “Feminist Ethics.” Stanford Encyclopedia of Philosophy. Sumber.

  19. Bohman, J., & Rehg, W. “Jürgen Habermas.” Stanford Encyclopedia of Philosophy. Sumber.

  20. Robeyns, I. “The Capability Approach.” Stanford Encyclopedia of Philosophy. Sumber.

  21. “Stoicism.” Stanford Encyclopedia of Philosophy. Sumber.

  22. “Confucius.” Stanford Encyclopedia of Philosophy. Sumber.

  23. Goodman, C. (2024). “Ethics in Indian Buddhism.” Stanford Encyclopedia of Philosophy. Sumber.

  24. “Arabic and Islamic Philosophy of Religion,” bagian “Ethics in Islam.” Stanford Encyclopedia of Philosophy. Sumber.

  25. Leiter, B. (2024). “Nietzsche's Moral and Political Philosophy.” Stanford Encyclopedia of Philosophy. Sumber.

  26. Alfano, M., Loeb, D., & Plakias, A. “Experimental Moral Philosophy.” Stanford Encyclopedia of Philosophy. Sumber.

  27. Cohon, R. “Hume's Moral Philosophy.” Stanford Encyclopedia of Philosophy. Sumber.

← Semua entry