← Penilaian

Menerima: Menyesuaikan Diri dengan Realitas Tanpa Menyerah

Ada kalimat yang sangat mudah diucapkan ketika orang lain sedang menghadapi sesuatu yang tidak dapat segera diperbaiki:

Kamu harus menerima kenyataan.

Masalahnya, kalimat itu sering tidak menjelaskan pekerjaan apa yang sebenarnya diminta.

Apakah menerima berarti percaya bahwa sesuatu memang terjadi? Berhenti berharap keadaan berbeda? Berhenti mencari jalan keluar? Membiarkan emosi hadir? Mengakui bahwa keputusan orang lain bukan milik kita? Mengurangi usaha pada tujuan yang sudah tidak mungkin? Atau hanya berhenti melawan sesuatu yang saat ini tidak dapat diubah?

Kata yang sama dipakai untuk semua itu.

Karena itu saya mencoba meneliti pertanyaan yang kelihatannya sederhana:

Apa sebenarnya yang terjadi ketika manusia "menerima" sesuatu?

Rangkaian riset yang mendasari tulisan ini bergerak melalui lima tahap. Titik awalnya cukup intuitif: mungkin menerima adalah satu keluarga proses penyesuaian terhadap realitas. Tetapi setiap tahap berikutnya sengaja menguji dan mencoba merusak gagasan itu. Hasil akhirnya lebih sempit daripada dugaan awal.

Saya tidak menemukan dasar yang cukup kuat untuk memperlakukan Menerima sebagai satu mekanisme psikologis universal yang selalu berada di antara memahami dan bertindak.

Yang bertahan justru lebih spesifik.

Dalam penggunaan sehari-hari, menerima tetap merupakan kata yang berguna. Ia mengompresi beberapa perubahan yang sering kita alami bersama. Tetapi ketika kita ingin menjelaskan apa yang sebenarnya berubah, kata itu perlu dibuka kembali menjadi proses yang berbeda.

Tulisan ini mencoba melakukan itu.

1. Satu kata, beberapa persoalan#

Bandingkan lima kalimat berikut.

Saya menerima bahwa hubungan itu sudah berakhir.

Saya menerima bahwa saya masih sedih.

Saya menerima bahwa keputusan itu bukan milik saya.

Saya menerima bahwa saya belum tahu hasilnya.

Saya menerima bahwa tujuan itu sudah tidak mungkin dicapai.

Semua memakai kata menerima, tetapi objek dan masalahnya berbeda.

Kalimat pertama dapat menyangkut representasi tentang kenyataan.

Kalimat kedua menyangkut hubungan terhadap pengalaman internal.

Kalimat ketiga menyangkut batas kendali dan agency.

Kalimat keempat menyangkut ketidakpastian.

Kalimat kelima menyangkut viability sebuah tujuan.

Kalau semua ini dipaksa menjadi satu proses, kita kehilangan pembedaan yang justru paling berguna.

Peta kerja yang lebih defensible adalah:

MENERIMA
bahasa sehari-hari / umbrella

├── experiential acceptance
│   hubungan terhadap pikiran, emosi, sensasi, urge
│
├── constraint accommodation
│   penyesuaian terhadap batas kendali
│
├── uncertainty regulation
│   hidup dan bertindak ketika belum tahu
│
└── goal adaptation
    penyesuaian ketika tujuan berubah viability-nya

Keempat wilayah ini dapat saling memengaruhi. Tetapi tidak ada alasan yang cukup untuk menganggap semuanya adalah manifestasi satu mekanisme tersembunyi yang sama.

Itu menjadi prinsip pertama tulisan ini:

Kesamaan nama tidak menjamin kesamaan mekanisme.

2. Menerima bukan menyukai#

Jika sesuatu diterima, sesuatu itu tidak harus menjadi menyenangkan.

Kita dapat menerima bahwa operasi gagal, proyek berhenti, seseorang memilih pergi, atau sebuah kesempatan telah hilang sambil tetap lebih memilih keadaan lain.

Karena itu:

menerima
≠
menyukai

Pembedaan ini penting karena bahasa populer sering memperlakukan acceptance sebagai perubahan valence:

sebelumnya buruk
↓
diterima
↓
sekarang terasa baik

Tidak harus begitu.

Sesuatu dapat tetap buruk, menyakitkan, atau disesalkan. Yang berubah dapat berada di tempat lain: pada cara kita mengalokasikan perhatian, usaha, rencana, pencarian informasi, atau tindakan.

3. Menerima bukan menyetujui atau membenarkan#

Mengatakan:

Saya menerima bahwa tindakan itu terjadi.

tidak sama dengan:

Saya setuju tindakan itu dilakukan.

Dan keduanya berbeda lagi dari:

Tindakan itu dapat dibenarkan.

Ini penting terutama ketika objeknya adalah tindakan orang lain.

Kita dapat mengakui bahwa sesuatu benar-benar terjadi tanpa menyetujui, membenarkan, memaafkan, mempercayai kembali, atau melakukan rekonsiliasi.

pengakuan realitas
≠
persetujuan
≠
justifikasi
≠
forgiveness
≠
reconciliation

Setiap hubungan itu membutuhkan alasan sendiri.

4. Menerima bukan berhenti merasa#

Ada kecenderungan mengukur acceptance dari perubahan emosi.

Kalau masih sedih, berarti belum menerima. Kalau masih marah, berarti belum menerima. Kalau masih takut, berarti belum menerima.

Ukuran ini terlalu kuat.

Seseorang dapat tetap mengalami distress sambil cara bertindaknya sudah jauh lebih sesuai dengan keadaan yang tersedia.

Bayangkan seseorang yang mengalami rasa takut sebelum presentasi:

A

takut
↓
"rasa takut ini harus hilang dulu"
↓
presentasi ditunda

dibandingkan dengan:

B

takut tetap hadir
↓
"aku tidak harus menghilangkannya dulu"
↓
presentasi tetap dilakukan

Pada kasus kedua, rasa takut tidak harus hilang. Yang berubah adalah hubungan antara pengalaman internal dan syarat untuk bertindak.

Inilah wilayah di mana istilah experiential acceptance paling kuat dipertahankan sebagai proses yang cukup spesifik.

Pertanyaannya bukan:

Bagaimana saya membuat perasaan ini hilang?

melainkan:

Apakah pengalaman ini harus hilang sebelum saya dapat melakukan sesuatu yang penting?

5. Experiential acceptance berbeda dari reinterpretasi#

Ada beberapa cara menghadapi pengalaman yang tidak menyenangkan.

Salah satunya adalah mengubah interpretation:

Mungkin kejadian ini tidak seburuk yang saya kira.

Itu dekat dengan reappraisal.

Cara lain tidak harus mengubah interpretation:

Saya tetap menganggap ini sulit, tetapi pengalaman yang muncul karenanya boleh hadir sementara saya melakukan sesuatu yang relevan.

Itu lebih dekat dengan experiential acceptance.

REAPPRAISAL

"Bisakah aku memahami atau menilai
kejadian ini secara berbeda?"

dibandingkan dengan:

EXPERIENTIAL ACCEPTANCE

"Bisakah pikiran, emosi, atau sensasi ini
hadir tanpa harus kuhilangkan dulu
sebelum bertindak?"

Keduanya dapat berguna. Keduanya tidak harus saling meniadakan. Tetapi menyatukannya membuat kita kehilangan apa yang sebenarnya berubah.

6. Menerima bukan pasrah#

Pembedaan yang lebih sulit adalah antara acceptance dan resignation.

Dari luar, keduanya dapat terlihat sama: orang berhenti mencoba.

Masalahnya, berhenti mencoba bukan diagnosis.

Perilaku yang sama dapat muncul karena:

rational disengagement
fatigue
apathy
learned helplessness
goal value turun
opportunity cost naik
constraint accommodation

Karena itu kita tidak dapat menyimpulkan:

berhenti mencoba
↓
sudah menerima

Pembedaan yang lebih berguna adalah melihat bagaimana respons berubah ketika keadaan berubah.

Misalkan pada waktu pertama leverage memang rendah:

TIME 1

kemungkinan mengubah outcome rendah
↓
effort dikurangi

Kemudian keadaan berubah:

TIME 2

leverage kembali tersedia

Jika respons juga berubah, kita melihat adaptasi yang masih sensitif terhadap contingency.

Jika withdrawal tetap menyebar ke semua keadaan walaupun leverage baru tersedia, ada alasan lebih besar untuk mempertimbangkan rigidity atau helplessness.

Adaptive accommodation lebih dekat dengan:

Saya mengurangi usaha di tempat yang sekarang tidak mempunyai leverage, tetapi tetap siap memperbarui tindakan bila leverage berubah.

Bukan:

Tidak ada gunanya melakukan apa pun.

7. Constraint accommodation: menerima batas kendali#

Banyak penggunaan kata menerima sebenarnya berhubungan dengan batas kendali.

Saya tidak dapat menentukan keputusan orang lain.

Saya tidak dapat mengubah apa yang sudah terjadi.

Saya dapat memengaruhi proses ini, tetapi tidak menjamin hasilnya.

Saya tidak punya akses untuk mengubah bagian sistem itu sekarang.

Masalahnya sering disederhanakan menjadi:

bisa dikendalikan
vs
tidak bisa dikendalikan

Padahal kendali hampir selalu lebih bergradasi.

Pertanyaan yang lebih baik:

apa yang dapat dipengaruhi?
oleh siapa?
seberapa besar?
kapan?
dengan biaya berapa?
dengan probabilitas berapa?
apakah membutuhkan koordinasi?
apakah leverage dapat berubah?
apakah tindakan sekarang membuka leverage baru?

Constraint accommodation bukan perintah untuk pasif. Ia adalah penyesuaian effort terhadap kendali yang benar-benar tersedia.

Di satu bagian kita dapat berhenti mencoba. Di bagian lain kita justru perlu bertindak lebih banyak.

8. Mengetahui batas kendali juga dapat salah#

Ada bahaya besar jika bahasa acceptance dipakai terlalu dini.

Seseorang dapat berkata:

Saya sudah menerima bahwa ini tidak bisa diubah.

Padahal kesimpulan tentang uncontrollability belum cukup diuji.

usaha dan eksplorasi dikurangi
↓
kesempatan menemukan leverage ikut berkurang
↓
tidak muncul bukti baru tentang leverage
↓
keyakinan "tidak ada yang bisa dilakukan" menguat
↓
eksplorasi makin berkurang

Karena itu pertanyaan praktisnya bukan hanya:

Apa yang harus diterima?

Tetapi:

Kapan bukti sudah cukup kuat untuk mengurangi control effort tanpa kehilangan kesempatan menemukan leverage yang berubah atau sebelumnya tersembunyi?

Di sini masalah acceptance bertemu dengan Memahami: Apa yang Layak Dipercaya? dan Memilih: Apa yang Layak Dilakukan?.

Kita perlu menilai apa yang diketahui, seberapa yakin, berapa biaya eksplorasi tambahan, dan apakah informasi baru dapat mengubah keputusan.

9. Menerima ketidakpastian bukan memilih jawaban#

Kadang yang perlu dihadapi bukan fakta X. Yang tersedia justru:

BELUM TAHU

Misalnya:

Saya belum tahu apakah aplikasi ini diterima.

Saya belum tahu apakah pemeriksaan berikutnya akan mengubah diagnosis.

Saya belum tahu apakah pelanggan akan kembali.

Menerima ketidakpastian bukan menerima bahwa X benar dan bukan menerima bahwa X salah.

Ia berarti mengakui:

keadaan epistemik sekarang
=
belum cukup tahu

Lalu pertanyaan praktisnya menjadi:

Apakah informasi tambahan masih layak dicari?

10. Information seeking perlu mengikuti nilai informasi#

Banyak mencari informasi tidak otomatis berarti seseorang gagal menerima ketidakpastian.

Sedikit mencari informasi juga tidak otomatis berarti ia sudah menerima.

Pertanyaannya adalah apakah pencarian itu responsif terhadap nilai keputusan dari informasi tambahan.

masih ada uncertainty
        │
        ▼
apakah informasi tambahan
dapat mengubah keputusan?
        │
    ┌───┴───┐
   ya      sangat sedikit
    │          │
search dapat   nilai search
bernilai       turun

Tetapi keputusan ini juga dipengaruhi oleh biaya, waktu, stakes, availability, reversibility, opportunity cost, dan kesempatan belajar nanti.

Checking berulang dapat terlihat sama dengan penyelidikan rasional. Perbedaannya terletak pada hubungan pencarian dengan information value, bukan sekadar jumlah pencariannya.

11. Ketika tujuan tidak lagi tersedia#

Penggunaan lain dari menerima muncul ketika outcome yang selama ini dikejar tidak lagi tersedia, atau probabilitasnya turun cukup jauh.

goal lama
↓
evidence baru
↓
viability turun

Beberapa respons mungkin tersedia:

persist
modify route
pause
disengage
reengage elsewhere

Tidak ada satu respons yang selalu benar.

Berhenti terlalu cepat dapat membuang peluang yang masih layak. Bertahan terlalu lama dapat menghabiskan resource pada target yang tidak lagi sebanding dengan biayanya.

Karena itu goal adaptation perlu dibedakan menjadi beberapa pekerjaan:

menilai attainability
↓
menilai value dan cost
↓
menyesuaikan commitment
↓
mungkin disengage
↓
mungkin reengage pada goal lain

Dan sekali lagi:

goal disengagement
≠
bukti bahwa seseorang sudah menerima

Orang dapat berhenti karena alasan yang sangat berbeda.

12. Mengetahui belum tentu berarti seluruh sistem sudah menyesuaikan#

Salah satu temuan paling penting dari seluruh penelitian ini adalah sesuatu yang mudah dikenali dalam pengalaman sehari-hari:

Kita dapat tahu sesuatu tanpa seluruh cara kita bereaksi sudah berubah mengikuti pengetahuan itu.

Bayangkan seseorang mengatakan:

Saya tahu hubungan ini sudah selesai.

Pernyataan itu dapat benar pada tingkat belief.

Tetapi pada saat yang sama:

EXPECTANCY
masih mengantisipasi kemungkinan kembali

HABIT
masih membuka chat secara otomatis

AFFECT
masih bereaksi kuat terhadap cue tertentu

GOAL
masih memakai future bersama sebagai target

PLANNING
belum membangun kehidupan tanpa hubungan itu

CONTROL MODEL
masih mencari tindakan yang mungkin membalik keadaan

Kalimat sehari-hari untuk keadaan ini sering:

Kepala saya sudah tahu, tetapi saya belum bisa menerima.

Sebagai deskripsi pengalaman, kalimat itu masuk akal.

Sebagai explanation, ia terlalu cepat berhenti.

Pertanyaan yang lebih berguna:

Bagian mana yang sudah berubah, dan bagian mana yang masih bekerja berdasarkan state, learning history, atau konteks sebelumnya?

13. Tidak ada satu urutan universal#

Dari sini muncul koreksi besar terhadap arsitektur yang sangat intuitif:

MEMAHAMI
↓
MENERIMA
↓
MEMILIH
↓
BERTINDAK

Urutan itu terlalu kuat jika diperlakukan sebagai hukum umum.

Kadang seseorang memahami lalu langsung bertindak. Saya melihat hujan, memperkirakan akan basah, mengambil payung, lalu keluar. Kita tidak membutuhkan stage psikologis tambahan bernama acceptance untuk menjelaskan transisi itu.

Pada situasi lain, perubahan dapat berjalan berbeda:

belief berubah lebih dulu

atau:

behavior berubah lebih dulu
↓
pengalaman baru muncul
↓
expectancy ikut berubah

atau:

control estimate berubah
↓
goal berubah

atau:

repeated exposure
↓
respons emosional perlahan berubah

atau beberapa proses berjalan paralel.

Model yang lebih defensible adalah sistem dengan beberapa bagian yang dapat mempunyai kecepatan update berbeda.

                EVIDENCE
                   │
       ┌───────────┼───────────┐
       ▼           ▼           ▼
    BELIEF     EXPECTANCY     AFFECT
       │           │           │
       ├───────────┼───────────┤
       ▼           ▼           ▼
    CONTROL       GOALS       HABITS
       │           │           │
       └───────────┼───────────┘
                   ▼
                PLANNING
                   │
                   ▼
               ARBITRATION
                   │
                   ▼
                 ACTION
                   │
                   ▼
              NEW EVIDENCE

Diagram ini bukan model psikologis lengkap. Ia menunjukkan alasan mengapa satu perubahan tidak harus merambat ke semua bagian pada saat yang sama.

14. Dari "belum menerima" menuju diagnosis yang lebih presisi#

Jika seseorang mengatakan:

Saya belum bisa menerima X.

Kalimat itu sebaiknya menjadi awal pertanyaan, bukan diagnosis akhir.

Representation#

Apa yang sebenarnya dipercayai? Apakah X sungguh dianggap benar, atau alternatif lain masih diberi probabilitas tinggi?

Evidence#

Apa dasar keyakinan itu? Apa yang masih tidak diketahui? Apakah cara memperoleh evidence mempunyai blind spot?

Control#

Apa yang masih dapat dipengaruhi? Apa yang tidak? Apakah perceived control sesuai dengan actual leverage?

Information#

Apakah informasi tambahan masih dapat mengubah keputusan? Atau pencarian sekarang terutama mengurangi discomfort sesaat?

Experience#

Apakah action sedang ditunda sampai emosi tertentu hilang?

Goals#

Goal apa yang masih aktif? Apakah masih feasible, terlalu mahal, atau membutuhkan route baru?

Habit#

Behavior apa yang terus berjalan karena cue dan learning history lama?

Planning#

Apakah rencana masa depan sudah menggunakan state dunia yang sekarang dipercayai?

Action#

Apakah behavior berubah ketika evidence dan contingency berubah?

Pertanyaan ini mengubah:

"belum menerima"

dari label global menjadi problem decomposition.

15. Mengapa saya tidak menggantinya dengan "regulatory integration"#

Pada satu tahap penelitian, ada kandidat jawaban yang terlihat menjanjikan.

Mungkin acceptance bukan satu proses, tetapi sebuah regulatory integration profile: keadaan ketika belief, control, goal, planning, habit, affect, dan action menjadi cukup terkoordinasi.

Gagasan itu membantu untuk sementara.

Tetapi ketika diuji lebih keras, masalah yang sama muncul lagi.

consistency
≠
coupling
≠
synchronization
≠
strategy-context fit
≠
planning alignment
≠
habit updating
≠
behavioral convergence
≠
contingency sensitivity
≠
cross-context stability

Kalau semua hubungan ini kembali dimasukkan ke satu kata baru, kita hanya memindahkan masalah dari acceptance ke regulatory integration tanpa mendapatkan explanatory gain yang jelas.

Karena itu bahasa yang lebih aman adalah:

dynamic relations among regulatory processes

Lalu sebutkan relasi yang dimaksud.

16. Relasi yang lebih berguna untuk diperiksa#

Alih-alih bertanya:

Seberapa integrated orang ini?

kita dapat bertanya lebih spesifik.

Belief-plan alignment#

Apakah rencana menggunakan state dunia yang benar-benar dipercayai?

Control-effort calibration#

Apakah effort sesuai dengan leverage yang tersedia?

Goal-policy fit#

Apakah tindakan yang terus dilakukan masih melayani goal yang benar-benar dipertahankan?

Plan-action realization#

Apakah rencana diterjemahkan menjadi action?

Update latency#

Berapa lama perubahan di satu bagian diikuti perubahan pada bagian lain?

Context sensitivity#

Apakah policy berubah ketika konteks berubah?

Reversal sensitivity#

Apakah orang kembali mengeksplorasi atau bertindak ketika leverage yang sebelumnya hilang muncul lagi?

Information-value sensitivity#

Apakah search berubah mengikuti nilai informasi yang sebenarnya?

Relasi seperti ini dapat diuji tanpa mengasumsikan satu higher-order state bernama acceptance atau integration.

17. Koherensi juga dapat salah#

Kita mungkin menganggap keadaan yang lebih konsisten pasti lebih baik.

Tidak selalu.

belief awal salah
↓
control estimate mengikuti belief itu
↓
goal disesuaikan
↓
planning mengikuti
↓
behavior menjadi sangat konsisten

Sistemnya dapat terlihat rapi. Tetapi consistency tidak membuat representasi awal menjadi benar.

more coherence
≠
more truth
≠
more adaptiveness

Ini alasan lain mengapa kita perlu mempertahankan hubungan dengan Memahami. Penyesuaian yang baik tetap bergantung pada kualitas representation yang menjadi dasarnya.

18. Posisi Menerima dalam Memahami, Memilih, dan Bertindak#

Memahami dan Memilih membedakan dua pertanyaan:

Apa yang layak dipercaya?

dan:

Apa yang layak dilakukan?

Tulisan ini tidak menambahkan jenis pembenaran ketiga.

Memahami tetap mengerjakan persoalan tentang representation, evidence, uncertainty, alternative explanation, dan batas klaim.

Memilih tetap mengerjakan persoalan tentang value, goal, option, consequence, constraint, right, obligation, cost, dan keputusan untuk bertindak atau mencari informasi.

Bertindak untuk Mengetahui menunjukkan bahwa tindakan dapat mengubah dunia sekaligus menghasilkan evidence baru.

Menerima berada di tempat yang berbeda.

Ia adalah nama manusia untuk beberapa regulatory transitions yang kadang menjadi relevan ketika representation, pengalaman, constraint, uncertainty, atau viability goal yang sekarang tidak lagi cocok dengan policy, habit, planning, atau commitment lama.

Tetapi ia bukan stage yang harus selalu dilalui.

REALITY / EXPERIENCE
        │
        ▼
     EVIDENCE
        │
        ▼
     MEMAHAMI
        │
        ├───────────────┐
        ▼               ▼
belief/uncertainty   regulatory transitions
        │           bila memang diperlukan
        │               │
        └───────┬───────┘
                ▼
             MEMILIH
                │
                ▼
             BERTINDAK
                │
                ▼
          consequences
                │
                ▼
           new evidence
                │
                └────────► MEMAHAMI

Kadang cabang regulatory transition itu sangat penting. Kadang tidak diperlukan sama sekali.

19. Jadi kapan "menerima" berguna sebagai kata?#

Saya tetap memakai kata itu.

Bukan karena ia menjelaskan semua mekanisme di bawahnya, tetapi karena bahasa manusia membutuhkan kompresi.

Kalimat:

Saya sudah menerima bahwa X.

dapat mengompresi keadaan seperti:

saya mengetahui X
+
saya tidak lagi menjadikan pembatalan X
sebagai syarat sebelum melanjutkan
+
saya mengurangi usaha pada bagian
yang tidak mempunyai leverage
+
saya tetap bertindak pada bagian
yang masih terbuka
+
saya siap memperbarui respons
jika keadaan berubah

Itu deskripsi yang berguna.

Masalah baru muncul jika compression tersebut diperlakukan sebagai explanation final.

Kata menerima boleh tetap berada pada level pengalaman manusia. Analisis yang lebih dalam perlu membuka compression itu.

20. Definisi kerja#

Dengan seluruh qualification di atas, definisi kerja yang masih berguna:

Menerima adalah bahasa manusia untuk penyesuaian terhadap sesuatu yang sedang menjadi bagian dari realitas atau pengalaman kita tanpa mensyaratkan bahwa hal tersebut harus lebih dahulu hilang, berubah, pasti, atau berada di bawah kendali sebelum kita dapat menentukan respons berikutnya.

Tetapi satu kalimat tambahan wajib menyertainya:

Secara ilmiah, penyesuaian itu tidak perlu merupakan satu mekanisme universal. Ia dapat melibatkan proses yang berbeda seperti experiential acceptance, constraint accommodation, uncertainty regulation, goal adaptation, serta perubahan pada belief, expectancy, habit, planning, atau action.

Definisi ini sengaja tidak mengatakan bahwa seseorang harus menyukai keadaan, menyetujuinya, membenarkannya, memaafkan seseorang, berhenti merasa, berhenti berharap, berhenti mencari informasi, berhenti bertindak, atau menganggap keadaan tidak mungkin berubah.

21. Empat pertanyaan praktis#

Jika seluruh tulisan harus dipadatkan menjadi empat pertanyaan, saya akan memakai ini.

Apa yang sebenarnya terjadi?#

Ini wilayah Memahami. Pisahkan keadaan, pengamatan, interpretation, uncertainty, dan alternative explanation.

Jangan meminta diri "menerima" sesuatu yang bahkan belum cukup layak dipercaya.

Apa yang masih dapat dipengaruhi?#

Jangan hanya bertanya apakah sesuatu controllable. Cari struktur leverage: bagian mana, oleh siapa, seberapa besar, dengan biaya apa, dan apakah leverage dapat berubah.

Apa yang masih layak dipertahankan?#

Periksa goal, value, cost, commitment, alternatif, dan opportunity cost.

Tidak semua persistence adalah keteguhan. Tidak semua disengagement adalah menyerah.

Apakah respons tetap dapat diperbarui?#

Acceptance yang berubah menjadi dogma tentang ketidakberdayaan tidak lagi membantu.

Jika evidence, constraint, atau opportunity berubah, policy juga harus dapat berubah.

22. Hal yang masih belum diketahui#

Penelitian ini tidak menutup seluruh persoalan.

Kita tahu relasi antarproses dapat penting, tetapi belum cukup tahu apakah relational features tertentu memberi predictive value yang tidak dapat diperoleh dari component states dan local interactions-nya.

Kita juga belum tahu seberapa umum pola hubungan itu antarorang. Shared components tidak otomatis berarti coupling dan update dynamics juga sama.

Belum jelas apakah subjective feeling "sekarang saya sudah menerima" biasanya merupakan cause, consequence, atau retrospective label terhadap perubahan sistem lain.

Masalah exploration juga belum selesai. Mengurangi effort pada target yang tampaknya tidak controllable dapat rasional, tetapi pengurangan exploration juga dapat membuat leverage tersembunyi tidak pernah ditemukan.

Karena itu frontier berikutnya bukan mencari definisi kata acceptance yang semakin luas.

Pertanyaan yang lebih tajam adalah:

Apakah konfigurasi atau relasi tertentu antar belief, control, goal, information search, habit, planning, dan action mempunyai informasi prediktif atau kausal tambahan di luar komponen-komponen tersebut?

Untuk saat ini, saya tidak mengasumsikan jawabannya ya.

23. Kesimpulan#

Saya memulai penyelidikan ini dengan dugaan bahwa Menerima mungkin merupakan tahap penting setelah Memahami.

Hasilnya justru membuat arsitektur itu lebih sederhana dan lebih hati-hati.

MEMAHAMI
↓
MENERIMA
↓
MEMILIH
↓
BERTINDAK

bukan model universal yang cukup didukung.

Yang lebih defensible adalah mengakui bahwa manusia memiliki beberapa proses yang dapat menyesuaikan diri dengan kecepatan berbeda:

belief
expectancy
control
information policy
experience
goals
habits
planning
action

Kadang beberapa di antaranya sudah berubah sementara yang lain belum.

Itulah sebabnya kita dapat:

tahu tetapi belum bertindak,
bertindak tetapi masih merasa,
berhenti mencoba tetapi belum tentu menerima,
masih berharap tetapi sudah menyesuaikan,
atau merasa sudah menerima
sementara model kendali kita sebenarnya salah.

Jadi pertanyaan:

Sudahkah aku menerima?

tetap berguna sebagai pertanyaan manusia.

Tetapi jika kita ingin memahami keadaan dengan lebih baik, saya lebih tertarik pada pertanyaan berikut:

Apa yang sudah berubah, apa yang belum berubah, mengapa keduanya berbeda, dan respons apa yang sekarang paling sesuai dengan bukti, kendali, tujuan, serta kemungkinan yang masih tersedia?

Di titik itu, menerima bukan akhir dari berpikir.

Ia menjadi salah satu cara untuk kembali melihat realitas tanpa menuntut realitas berubah terlebih dahulu, lalu menentukan apa yang masih layak dipercaya, dipilih, dan dilakukan.